Ekoteodukasi di MTsN 1 Purbalingga: Meniti Harmoni Sederhana Menjaga Semesta

Krisis Lingkungan, Krisis Cara Pandang

Kalau alam bisa bicara, mungkin ia sudah lama mengeluh. Bukan lewat unggahan media sosial, tetapi melalui banjir, longsor, cuaca ekstrem, dan krisis lingkungan yang makin sering datang. Masalahnya, manusia kerap baru sadar setelah rumah terendam dan sawah rusak. Padahal, sejak lama alam sudah memberi tanda. Kerusakan lingkungan sering dipahami sebagai persoalan teknis: hutan ditebang, sungai tercemar, sampah menumpuk. Solusinya pun teknis: tanam pohon, kurangi plastik, bersihkan sungai. Semua itu penting. Namun, ada yang sering luput, yaitu krisis makna.

Di titik inilah pendidikan seharusnya hadir. Bukan sekadar mengajar hafalan, nilai ujian, dan target rapor, tetapi membentuk cara pandang generasi muda terhadap semesta. Menariknya, madrasah yang sering diaanggap hanya sibuk dengan urusan ibadah justru memiliki modal kuat untuk itu.

Pemikir Muslim Seyyed Hossein Nasr menyebut krisis lingkungan sebagai krisis spiritual. Alam tidak lagi dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang sakral, melainkan objek eksploitasi. Hubungan manusia dengan alam berubah dari relasi amanah menjadi relasi kuasa. Jika cara pandang ini terus dipelihara, bencana akan datang seperti agenda rutin.

Ekoteodukasi: Belajar Agama dan Cinta Semesta

Di tengah situasi tersebut, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menawarkan pendekatan yang relevan. KBC tidak sekadar menambah mata pelajaran atau beban administrasi guru, tetapi menggeser poros pendidikan: cinta sebagai nilai utama. Melalui Panca Cinta yaitu kepada Tuhan, sesama manusia, ilmu pengetahuan, lingkungan, serta bangsa dan negeri. KBC memberi ruang luas untuk menyatukan nilai keagamaan dan kepedulian ekologis. Belajar agama, dalam konteks ini, tidak boleh membuat kita abai pada bumi tempat kita hidup.

Di MTsN 1 Purbalingga, gagasan ini diterjemahkan dalam pendekatan sederhana: hubungan dengan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari hubungan dengan alam. Tidak ada perubahan kurikulum yang ada hanyalah menginsersi sudut pandang dalam memaknai pelajaran. Misalnya, pelajaran Akidah Akhlak tidak berhenti pada hafalan sifat-sifat Allah, tetapi refleksi kasih sayang-Nya melalui keseimbangan alam. Fikih tidak hanya membahas sahnya wudu, tetapi juga kesadaran menjaga air agar tidak terbuang percuma. IPA tidak sekadar membahas ekosistem, tetapi menegaskan peran manusia sebagai penerima amanah di bumi.

Dari Ruang Kelas ke Kehidupan Nyata

Di MTsN 1 Purbalingga, ekoteodukasi tidak berhenti di kelas, tetapi diimplementasikan kedalam pembelajaran berbasis proyek. Sebagai contoh, pelajaran tata boga menghasilkan dua produk yang bernilai dari sisa limbah praktik yaitu Sirkunas akronim dari sirup kulit nanas dan Malitka akronim dari manisan kulit semangka. Saat gelar karya dan pengambilan rapor, warga madrasah dihimbau dan dibiasakan membawa tote bag sendiri sebagai langkah kecil mengurangi sampah plastik.

Para stake holder madrasah juga aware tentang pemanfaatan air bekas wudu yang dihasilkan dari aktivitas sekitar 60-an guru dan pegawai serta 900-an siswa setiap pelaksanaan salat Zuhur berjamaah. Selama ini, air tersebut kerap dipandang sebagai limbah semata, padahal volumenya cukup besar dan menyimpan potensi edukatif. Melalui pendekatan ekoteodukasi, air bekas wudu tidak lagi dibiarkan mengalir tanpa makna, tetapi dijadikan bahan refleksi pembelajaran: ke mana perginya air setelah kita bersuci, dan langkah apa yang nantinya akan dilakukan agar sisa air tersebut dapat dimanfaatkan kembali.

Keteladanan Guru dan Harapan Masa Depan

Dalam pendidikan nilai, keteladanan jauh lebih efektif daripada ceramah panjang. Guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru bisa menjadi pioneer dengan cara zero waste living meminimalisir penggunaan plastik, menjaga kebersihan diri dan lingkungan dari sampah, merawat tanaman, dan mengaitkan ayat Al-Qur’an dengan fenomena alam dengan tindakan nyata. Dengan keteladanan itu, akan menstimulasi warga madrasah untuk mengikuti tindakan serupa. Ekoteodukasi memang tidak menuntut kesempurnaan, hanya kesediaan untuk memulai. Jika Kurikulum Berbasis Cinta dihidupkan dengan kesadaran ekologis dan teologis, madrasah berpeluang melahirkan generasi yang saleh secara spiritual sekaligus bertanggung jawab secara ekologis.

Kesimpulan

Inilah yang dimaksud harmoni semesta: sebuah keadaan ketika iman memberi arah moral, ilmu memberi cara berpikir, dan alam menjadi ruang tanggung jawab bersama. Ketiganya tidak berdiri sendiri apalagi saling meniadakan, melainkan saling menguatkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Melalui integrasi pendidikan berbasis ekologi dan teologi, madrasah tidak hanya mencetak peserta didik yang taat secara ritual dan cakap secara akademik, tetapi juga peka terhadap lingkungan tempat mereka hidup. Dari sanalah lahir kesadaran bahwa mencintai Tuhan, menuntut ilmu, dan merawat bumi sejatinya adalah satu napas yang sama.

Penulis : Abas Rosadi, S.S., M.Pd.

Editor : Humas Matsabangga

Kabar Sekolah Lainnya

Pengumuman

Pengumuman Hasil PMBM
Jadwal Petugas Upcara

Prestasi

Juara 2 Lomba Hadroh
Juara Harapan 3 Kompet...