Mengambil Hikmah Keteladanan Syekh Hatim Al-Asham: Pentingnya Menjaga Perasaan dan Kekuatan Kata dalam Komunikasi

PURBALINGGA – Suasana khidmat menyelimuti halaman madrasah pada Kamis (3/9/2026) pagi. Seluruh guru dan pegawai berkumpul untuk melaksanakan kegiatan apel pagi rutin. Pada kesempatan kali ini, Ika Ariyanti guru Bahasa Indonesia, bertindak sebagai pemimpin apel yang memandu jalannya barisan dengan tertib dan lancar. Dalam sesi pembinaan, Syarif Hidayat menyampaikan amanat yang menginspirasi melalui kisah pencerahan tentang ulama besar, Syekh Hatim Al-Asham.

Dikisahkan, suatu hari seorang perempuan datang untuk bertanya mengenai hukum agama kepada Syekh Hatim. Namun, di tengah pembicaraan, perempuan tersebut secara tidak sengaja buang angin dengan suara yang lumayan keras hingga membuatnya sangat canggung dan malu. Demi menjaga perasaan dan menutup malu perempuan tersebut, Syekh Hatim dengan sigap berpura-pura tidak mendengar. Beliau meletakkan tangan di dekat telinganya seraya berkata: “Wahai perempuan, keraskan suaramu! Telingaku ini agak tuli, aku tidak bisa mendengar ucapanmu dengan jelas.” Karena sikap penyamarannya yang sangat konsisten demi menjaga perasaan orang lain itulah, masyarakat menyematkan julukan Al-Asham (Si Tuli) kepadanya, padahal pendengarannya sebenarnya sangat normal.

Kisah ini mengandung pesan moral yang sangat mendalam tentang pentingnya menutup aib dan menjaga perasaan sesama. Akhlak mulia bukan cuma soal tidak menyebarkan aib orang lain, melainkan juga bagaimana menjaga perasaan orang lain agar tidak merasa malu di depan kita. Selain itu, terlihat pula bentuk keikhlasan yang luar biasa saat Syekh Hatim rela dianggap punya kekurangan selama belasan tahun hanya demi ketenangan hati seorang perempuan biasa.

Dari kisah tersebut, Syarif Hidayat menekankan pentingnya menjaga kesantunan dan ketepatan diksi dalam komunikasi sehari-hari. Menurutnya, setiap tutur kata yang disampaikan dengan penuh empati tidak hanya memudahkan pesan dipahami, tetapi juga mampu membangun rasa percaya diri lawan bicara. Sebuah perjuangan selalu berawal dari kata-kata yang diucapkan, karena kata memiliki energi luar biasa yang mampu membangkitkan semangat.

Oleh karena itu, pemilihan diksi yang tepat tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, melainkan juga cerminan jati diri seseorang. Melalui amanat ini, para guru dan pegawai diajak untuk semakin bijak dalam bertutur kata demi menciptakan lingkungan kerja yang positif, suportif, dan penuh empati. Apel pagi ditutup dengan doa bersama. Melalui komitmen dan kedisiplinan dari seluruh guru dan pegawai, mari kita jadikan amanat pagi ini sebagai energi tambahan untuk menjalankan tugas mulia.

Penulis : Humas Matsabangga

Kabar Sekolah Lainnya

Pengumuman

Pengumuman Hasil PMBM
Jadwal Petugas Upcara

Prestasi

Juara 2 Lomba Hadroh
Juara Harapan 3 Kompet...